Senin, 17 Oktober 2016

Membangun Profesional Pribadi

Prakata Penulis

Menulis adalah bagian dari memperlihatkan diri melalui kata, bahasa, bahkan lebih dari itu. Mungkin “Membangun Profesionalisme Pribadi”  ini merupakan karya tulis ilmiah pertama bagi penulis terlepas dari makalah-makalah dan semacamnya. Karena penulis lebih memfokuskan diri pada tulisan-tulisan lepas tidak berreferensi. Terlalu menyukai permainan kata dalam kalimat-kalimat yang terkadang tidak ada unsur ilmiahnya sama sekali.
Terlepas dari hal-hal diatas, Setelah penulis berupaya menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan kemampuan yang penulis miliki. Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada Dosen Pengampu mata kuliah Dasar-Dasar Penulisan, bapak Sopian S.Sos, M.Ik. Karena  tugas penulisan karya ilmiah ini memberikan pengalaman tersendiri bagi diri penulis.

Penulis pun menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan karya tulis ilmiah  ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang konstruktif untuk menyempurnakan isi dan penampilan karya tulis ini.
            Semoga karya yang sederhana ini dapat menjadi pustaka yang bermanfaat bagi Penulis khususnya dan rekan –rekan mahasiswa pada umumnya.



Tangerang, 09 Oktober 2016

Penulis


Mengenai Profesionalisme
            Memahami kata profesional yang menjadi kata dasar profesionalisme, profesional berarti seseorang yang melakukan suatu (kegiatan, aktivitas, pekerjaan) yang dilakukan untuk mendapatkan rasa puas atau memberi kontribusi dengan mengandalkan keahlian, keterampilan, kemahiran. Dengan melibatkan komiten pribadi (moral).[1]         
Profesionalisme berasal dari kata ‘profesi’ (profesion), yang berarti pekerjaan. Dalam bahasa Inggris profesion berarti mengerjakan pekerjaan dengan penuh waktu bukan part time. Jika ‘profesi’ diartikan sebagai pekerjaan dan ‘isme’ sebagai pandangan hidup, maka profesionalisme dapat diartikan sebagai sebuah pandangan untuk selalu berpikir, berpendirian, bersikap, dan bekerja dengan sungguh-sungguh, kerja keras sepenuh waktu, disiplin, jujur, loyalitas tinggi,dan penuh dedikasi demi keberhasilan pekerjaannya. Profesinalisme lebih mengarah pada  jiwa, sikap, karakter, dan semangat nilai yang dimiliki seorang yang profesional.

Mengapa Harus  Profesional ?
            Dalam pengertian seperti itu profesionalisme sangat diperlukan untuk keberhasilan suatu perusahaan, organisasi, lembaga maupun gerakan. Perusahaan, organisasi, lembaga maupun gerakan jika ingin berhasil maka orang-orang yang terlibat didalamnya harus memiliki sikap dan perilaku profesional. Tanpa sikap dan perilaku profesionalisme sebuah institusi, perusahaan, lembaga, organisasi tidak akan bertahan lama maupun sebuah pergerakan tidak akan memperoleh hasil yang maksimal. Julukan profesional bukan lah pe’labelan pada diri sendiri. Melainkan penilaian orang lain untuk kinerja yang nampak dalam diri kita. Mengapa nilai professional yang perlu ditingkatkan dalam bermasyarakat, berorganisasi, dan dalam dunia kerja? Karena jiwa profesionalisme inilah yang menghidupkan setiap aktivitas yang ada didalamnya. Karna  dunia mencari bahkan berani bayar mahal untuk itu. Kalau dari sekarang kita mulai mengembangkan profesionalisme maka beberapa  waktu dari saat ini kita akan memiliki kehidupan yang berkualitas tinggi.

Professionalisme pada diri seseorang terbentuk karena faktor-faktor  berikut: (a) budaya, dan (b) keahlian. Maksud dari budaya disini faktor dalam diri setiap dari kita. Mengapa penulis membahasakannya sebagai ‘budaya’, karena aspek diri yang membudaya lah yang membentuk jiwa profesionalisme pada diri seorang yang professional. Penulis akan memfokuskan pada pembahasan aspek diri yang membentuk budaya dan melahirkan profesionalisme. Karena  seseorang yang terfokus menekuni bidang tertentu hingga menjadi ahli (pada faktor b) tak terlepas dari aspek diri yang menjadi budaya.

Bagaimana Membangun Profesionalisme Diri  ?
Merujuk aspek diri menurut Yoseph L. Frans[2], meliputi:
a)      Fisik diri
Melainkan keadaan fisik pada setiap diri kita.

b)      Diri sebagai proses
Untuk menjadi seorang yang profesioanl tidak cukup hanya lewat pendidikan formal, diperlukan lebih dari sekedar gelar akademis. Kita perlu melalui proses pembelajaran dan pengembangan diri yang terus menerus. Kita harus menggali potensi dan kemampuan diri dan terus kembangkan sampai menjadi ahli. Fokus pada kekuatan kita bukan pada kelemahan kita. Lakukan eksplorasi, sadari setiap kita punya keunikan dan kekhususan masing-masing. Kembangkan passion yang kita miliki melalui ketekunan  dengan terus meningkatkan pemahaman melalui seminar, buku, audio, latihan dsb.

c)      Diri social
Kemampuan kita membangun hubungan (bersosialisasi) dengan orang lain sangat menetukan keberhasilan kita. Ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan seperti: pergaulan, organisasi, dunia usaha, pekerjaan, keluarga. Makannya tidak heran sejumlah studi ilmiah menyimpulkan lebih dari 50% kunci sukses ditentukan bukan dari keahlian atau keterampilan teknis saja melainkan kemahiran dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Bila ingin menjadi seorang yang professional, apapun tujuan dan bidang yang dipilih yang terpenting untuk dipelajari adalah membina hubungan baik dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Karena masyarakat mungkin masih bisa menerima orang yang tidak punya keahlian khusus tapi mereka sulit menerima orang yang tidak bisa berhubungan baik dengan orang lain.

d)      Konsep diri
Seberapa mampu kita dalam mengkonsep diri, salah satunya dalam komunikasi. Karena hubungan dapat terjalin ditentukan oleh komunikasi. 90% penyebab hancurnya suatu hubungan dalam berbagai aspek dikeseharian diakibatkan komunikasi yang salah. Komunikasi yang baik harus bersifat dua arah. Seorang komunikator yang handal adalah seorang pendengar yang baik. Seorang yang professional harus mampu mengkomunikasikan suatu hal dengan jelas dan tepat pada sasaran.

e)      Cita diri
Selalu berusaha ingin menghasilkan sesuatu, karya yang berkualitas tinggi dan kinerja ynag maksimal. “professional don’t do different thing, they do thing differently”. Kita harus berani mencoba memberikan dan mengerjakan lebih dari apa yang diharapkan. Jangan puas dengan rata-rata kejar hasil yang excellent. Lakukan yang terbaik hari ini untuk bayaran hari esok. Pikirkan selalu apa yang dapat saya lakukan untuk add value bukan untuk score.

Kesimpulan
Penulis menyimpulkan garis besar membagun profesionalisme dalam diri adalah 90% berada pada aspek-aspek yang membudaya dalam diri seseorang yang pada akhirnya membangun jiwa profesionalisme dalam dirinya dan menjadikannya seorang yang professional.




Daftar Pustaka

Rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia, online, kbbi.web.id > profesional dalam kbbi.
Frans, Yoseph. Identitas Diri ( Suatu Analisis Psiko Filosofis ). 1986. Bandung: Serva Minora.




[1] Rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia, online, kbbi.web.id > profesional dalam kbbi.
[2] Frans, Yoseph. Identitas Diri ( Suatu Analisis Psiko Filosofis ). 1986. Bandung: Serva Minora.