Prakata
Penulis
Menulis
adalah bagian dari memperlihatkan diri melalui kata, bahasa, bahkan lebih dari
itu. Mungkin “Membangun Profesionalisme Pribadi” ini merupakan karya tulis ilmiah pertama bagi
penulis terlepas dari makalah-makalah dan semacamnya. Karena penulis lebih
memfokuskan diri pada tulisan-tulisan lepas tidak berreferensi. Terlalu
menyukai permainan kata dalam kalimat-kalimat yang terkadang tidak ada unsur
ilmiahnya sama sekali.
Terlepas dari hal-hal diatas, Setelah penulis berupaya
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan kemampuan yang penulis miliki. Penulis
mengucapkan terimakasih banyak kepada Dosen Pengampu mata kuliah Dasar-Dasar
Penulisan, bapak Sopian S.Sos, M.Ik. Karena
tugas penulisan karya ilmiah ini memberikan pengalaman tersendiri bagi
diri penulis.
Penulis pun menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan
karya tulis ilmiah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang
konstruktif untuk menyempurnakan isi dan penampilan karya tulis ini.
Semoga karya yang sederhana ini dapat menjadi
pustaka yang bermanfaat bagi Penulis khususnya dan rekan –rekan mahasiswa pada
umumnya.
Tangerang,
09 Oktober 2016
Penulis
Mengenai Profesionalisme
Memahami kata profesional yang menjadi
kata dasar profesionalisme, profesional berarti seseorang yang melakukan suatu
(kegiatan, aktivitas, pekerjaan) yang dilakukan untuk mendapatkan rasa puas
atau memberi kontribusi dengan mengandalkan keahlian, keterampilan, kemahiran.
Dengan melibatkan komiten pribadi (moral).[1]
Profesionalisme
berasal dari kata ‘profesi’ (profesion), yang
berarti pekerjaan. Dalam bahasa Inggris profesion
berarti mengerjakan pekerjaan dengan penuh waktu bukan part time. Jika ‘profesi’ diartikan sebagai pekerjaan dan ‘isme’
sebagai pandangan hidup, maka profesionalisme dapat diartikan sebagai sebuah
pandangan untuk selalu berpikir, berpendirian, bersikap, dan bekerja dengan
sungguh-sungguh, kerja keras sepenuh waktu, disiplin, jujur, loyalitas
tinggi,dan penuh dedikasi demi keberhasilan pekerjaannya. Profesinalisme lebih
mengarah pada jiwa, sikap, karakter, dan
semangat nilai yang dimiliki seorang yang profesional.
Mengapa Harus Profesional ?
Dalam pengertian seperti itu
profesionalisme sangat diperlukan untuk keberhasilan suatu perusahaan,
organisasi, lembaga maupun gerakan. Perusahaan, organisasi, lembaga maupun
gerakan jika ingin berhasil maka orang-orang yang terlibat didalamnya harus
memiliki sikap dan perilaku profesional. Tanpa sikap dan perilaku profesionalisme
sebuah institusi, perusahaan, lembaga, organisasi tidak akan bertahan lama
maupun sebuah pergerakan tidak akan memperoleh hasil yang maksimal. Julukan
profesional bukan lah pe’labelan pada diri sendiri. Melainkan penilaian orang
lain untuk kinerja yang nampak dalam diri kita. Mengapa nilai professional yang
perlu ditingkatkan dalam bermasyarakat, berorganisasi, dan dalam dunia kerja?
Karena jiwa profesionalisme inilah yang menghidupkan setiap aktivitas yang ada
didalamnya. Karna dunia mencari bahkan
berani bayar mahal untuk itu. Kalau dari sekarang kita mulai mengembangkan
profesionalisme maka beberapa waktu dari
saat ini kita akan memiliki kehidupan yang berkualitas tinggi.
Professionalisme
pada diri seseorang terbentuk karena faktor-faktor berikut: (a) budaya, dan (b) keahlian. Maksud
dari budaya disini faktor dalam diri setiap dari kita. Mengapa penulis
membahasakannya sebagai ‘budaya’, karena aspek diri yang membudaya lah yang membentuk
jiwa profesionalisme pada diri seorang yang professional. Penulis akan
memfokuskan pada pembahasan aspek diri yang membentuk budaya dan melahirkan
profesionalisme. Karena seseorang yang
terfokus menekuni bidang tertentu hingga menjadi ahli (pada faktor b) tak
terlepas dari aspek diri yang menjadi budaya.
Bagaimana Membangun Profesionalisme
Diri ?
Merujuk
aspek diri menurut Yoseph L. Frans[2], meliputi:
a) Fisik
diri
Melainkan
keadaan fisik pada setiap diri kita.
b) Diri
sebagai proses
Untuk
menjadi seorang yang profesioanl tidak cukup hanya lewat pendidikan formal,
diperlukan lebih dari sekedar gelar akademis. Kita perlu melalui proses
pembelajaran dan pengembangan diri yang terus menerus. Kita harus menggali
potensi dan kemampuan diri dan terus kembangkan sampai menjadi ahli. Fokus pada
kekuatan kita bukan pada kelemahan kita. Lakukan eksplorasi, sadari setiap kita
punya keunikan dan kekhususan masing-masing. Kembangkan passion yang kita miliki melalui ketekunan dengan terus meningkatkan pemahaman melalui
seminar, buku, audio, latihan dsb.
c) Diri
social
Kemampuan
kita membangun hubungan (bersosialisasi) dengan orang lain sangat menetukan
keberhasilan kita. Ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan seperti: pergaulan,
organisasi, dunia usaha, pekerjaan, keluarga. Makannya tidak heran sejumlah
studi ilmiah menyimpulkan lebih dari 50% kunci sukses ditentukan bukan dari
keahlian atau keterampilan teknis saja melainkan kemahiran dalam menjalin
hubungan baik dengan orang lain. Bila ingin menjadi seorang yang professional,
apapun tujuan dan bidang yang dipilih yang terpenting untuk dipelajari adalah
membina hubungan baik dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Karena
masyarakat mungkin masih bisa menerima orang yang tidak punya keahlian khusus
tapi mereka sulit menerima orang yang tidak bisa berhubungan baik dengan orang
lain.
d) Konsep
diri
Seberapa
mampu kita dalam mengkonsep diri, salah satunya dalam komunikasi. Karena
hubungan dapat terjalin ditentukan oleh komunikasi. 90% penyebab hancurnya
suatu hubungan dalam berbagai aspek dikeseharian diakibatkan komunikasi yang
salah. Komunikasi yang baik harus bersifat dua arah. Seorang komunikator yang
handal adalah seorang pendengar yang baik. Seorang yang professional harus
mampu mengkomunikasikan suatu hal dengan jelas dan tepat pada sasaran.
e) Cita
diri
Selalu
berusaha ingin menghasilkan sesuatu, karya yang berkualitas tinggi dan kinerja
ynag maksimal. “professional don’t do
different thing, they do thing differently”. Kita harus berani mencoba
memberikan dan mengerjakan lebih dari apa yang diharapkan. Jangan puas dengan
rata-rata kejar hasil yang excellent.
Lakukan yang terbaik hari ini untuk bayaran hari esok. Pikirkan selalu apa yang
dapat saya lakukan untuk add value bukan
untuk score.
Kesimpulan
Penulis
menyimpulkan garis besar membagun profesionalisme dalam diri adalah 90% berada
pada aspek-aspek yang membudaya dalam diri seseorang yang pada akhirnya
membangun jiwa profesionalisme dalam dirinya dan menjadikannya seorang yang
professional.
Daftar Pustaka
Rujukan
Kamus Besar Bahasa Indonesia, online,
kbbi.web.id > profesional dalam kbbi.
Frans,
Yoseph. Identitas Diri ( Suatu Analisis
Psiko Filosofis ). 1986. Bandung: Serva Minora.